Lompat ke konten
Beranda | Langkah Cepat Dalam Informasi Berita Indonesia dan Internasional Terkini | Anak Krakatau Meletus, Waspadai Dampak Kesehatan [Opini]

Anak Krakatau Meletus, Waspadai Dampak Kesehatan [Opini]

gunung krakatau meletus

Oleh: Jeffri Noviansyah – Pemimpin Redaksi Lampung7.com

Erupsi Gunung Anak Krakatau kembali menjadi perhatian masyarakat. Bukan hanya soal aktivitas vulkaniknya, tetapi juga dampaknya terhadap kesehatan, terutama jika abu vulkanik terbawa angin ke wilayah permukiman. Karena itu, masyarakat Lampung dan Banten perlu tetap tenang, tetapi tidak boleh mengabaikan risiko kesehatan akibat abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Dilansir dari Portal Layanan Satu Pintu Badan Geologi Badan Geologi pada 5 September 2026 melaporkan Anak Krakatau masih berstatus Level III (Siaga) dan mengalami erupsi menerus yang disertai suara gemuruh. Potensi bahaya yang disebutkan antara lain aliran lava, lontaran batu pijar dan hujan abu lebat.

Erupsi Anak Krakatau Bukan Hanya Soal Abu

Bagi masyarakat, letusan gunung api sering kali hanya dipahami sebagai persoalan abu yang mengotori rumah dan kendaraan. Padahal, abu vulkanik dapat menjadi persoalan kesehatan apabila terhirup atau mengenai mata dan kulit.

Dikutip dari portal Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menjelaskan bahwa abu vulkanik dapat menyebabkan gangguan pernapasan serta iritasi pada mata dan kulit.

Karena itu, ketika erupsi Anak Krakatau terjadi dan hujan abu sampai ke wilayah daratan, kita tidak boleh menganggapnya sebagai debu biasa.

Anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan perlu mendapatkan perhatian lebih. Bukan untuk menakut-nakuti, tetapi sebagai bentuk kewaspadaan.

Menurut saya, persoalan kesehatan harus menjadi bagian penting dalam setiap pembahasan mengenai erupsi Gunung Anak Krakatau.

Menurut BNPB, ketika abu mulai turun, masyarakat sebaiknya mengurangi aktivitas di luar ruangan. Jika memang harus keluar, gunakan masker untuk melindungi hidung dan mulut serta perlindungan untuk mata. BNPB juga merekomendasikan penggunaan masker dan perlengkapan pelindung mata serta kulit ketika terjadi hujan abu.

Abu yang menempel di jalan juga jangan dianggap selesai ketika hujan turun atau ketika kondisi terlihat sudah bersih. Debu yang mengering dapat kembali beterbangan akibat angin maupun kendaraan.

Maka, kebersihan lingkungan juga menjadi bagian dari perlindungan kesehatan.

Selain itu, pemerintah daerah dan instansi terkait juga perlu memastikan kesiapan layanan kesehatan apabila terjadi peningkatan sebaran abu vulkanik.

Masker harus tersedia. Fasilitas kesehatan harus siap. Informasi kesehatan harus cepat disampaikan kepada masyarakat.

Masyarakat pun harus mengetahui langkah sederhana: kurangi paparan abu, gunakan pelindung pernapasan, lindungi mata dan kulit, serta segera mencari pertolongan medis jika mengalami keluhan kesehatan yang berat atau tidak membaik.

Kita tidak perlu menunggu ada korban sakit dalam jumlah besar untuk kemudian bergerak.

Pada sikap ini, erupsi Anak Krakatau seharusnya tidak hanya menjadi tontonan viral di media sosial.

Ini adalah momentum untuk mengingatkan kita bahwa keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas.

Jangan hanya sibuk merekam letusan. Jangan hanya mengejar gambar dramatis. Jangan pula menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.

Jaga kesehatan, lindungi keluarga, dan patuhi rekomendasi petugas.

Bagi saya, kewaspadaan terhadap erupsi Anak Krakatau bukan berarti kita harus hidup dalam ketakutan. Justru dengan informasi yang benar, perlindungan kesehatan yang tepat dan kesiapsiagaan yang baik, kita bisa menghadapi aktivitas gunung api dengan lebih tenang.

Anak Krakatau boleh kembali bergeliat. Tetapi masyarakat harus tetap sehat, tenang dan waspada.

 

Tinggalkan Balasan