
Oleh: Jeffri Noviansyah
Ketua Umum Komunitas Pewarta Independen (KoPI)
Ada kalanya kita harus berani mengakui bahwa sesuatu yang baik memang layak diapresiasi, siapa pun yang melakukannya dan dari mana pun asalnya. Dalam politik dan pemerintahan, keberanian mengakui keberhasilan seorang pemimpin merupakan bentuk kedewasaan berpikir. Sebab, ukuran seorang pemimpin bukan terletak pada seberapa sering namanya dipuji, melainkan seberapa besar manfaat kebijakannya dirasakan rakyat.
Sebagai Ketua Umum Komunitas Pewarta Independen (KoPI), saya merasa bangga melihat sosok Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, yang menjadi perhatian dalam pembicaraan mengenai kepemimpinan daerah. Kinerja seorang kepala daerah patut dinilai secara objektif melalui kebijakan, keberpihakan, dan hasil nyata yang dirasakan masyarakat, buka sekedar pencitraan belaka.
Kebanggaan ini bukan berarti menutup mata terhadap kekurangan. Bukan pula berarti menempatkan seorang pemimpin di atas kritik. Justru sebaliknya, apresiasi harus berjalan beriringan dengan sikap kritis agar pemerintahan terus tumbuh menjadi lebih baik.
Jika ada pemimpin yang menunjukkan cara kerja yang patut dicontoh, kita harus berani mengakuinya. Jika ada hal baik yang bisa ditiru, mengapa tidak kita pelajari?

Cinta kepada Rakyat Harus Menjadi Dasar Kepemimpinan
Bagi saya, inti dari kepemimpinan bukanlah jabatan, popularitas, atau kemegahan seremoni. Inti kepemimpinan adalah cinta kepada rakyat.
Cinta kepada rakyat tidak cukup disampaikan melalui pidato, slogan, baliho, maupun unggahan di media sosial. Cinta itu harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata: mendengar keluhan masyarakat, memperbaiki pelayanan publik, memperjuangkan kebutuhan rakyat kecil, membuka akses pendidikan dan kesehatan, serta memastikan pembangunan tidak hanya dinikmati oleh kelompok tertentu.
Seorang pemimpin yang mencintai rakyat tidak akan merasa terganggu ketika masyarakat menyampaikan kritik. Ia justru menjadikan kritik sebagai bahan evaluasi. Ia tidak sekadar ingin terlihat bekerja, tetapi memastikan pekerjaannya benar-benar membawa perubahan.
Di sinilah esensi kepemimpinan yang seharusnya menjadi ukuran bagi setiap kepala daerah.
Kita tidak boleh menilai keberhasilan hanya berdasarkan pencitraan. Kita harus melihat hasil, memeriksa kebijakan, mendengar suara masyarakat, dan menilai apakah kehidupan rakyat mengalami perbaikan.
Maluku Utara Bisa Menjadi Bahan Pembelajaran
Kinerja Sherly Tjoanda sebagai Gubernur Maluku Utara layak menjadi bahan perhatian dan pembelajaran bagi daerah lain, termasuk Provinsi Lampung.
Namun, belajar dari daerah lain bukan berarti harus menyalin seluruh kebijakannya tanpa pertimbangan. Setiap daerah memiliki karakteristik, kemampuan fiskal, persoalan sosial, serta kebutuhan masyarakat yang berbeda.
Yang perlu ditiru adalah semangatnya: bagaimana seorang pemimpin membangun komunikasi dengan masyarakat, menetapkan prioritas pembangunan, merespons persoalan rakyat, dan mendorong birokrasi bekerja lebih efektif.
Jika terdapat kebijakan yang terbukti berhasil, pelajari mekanismenya. Jika ada program yang memberikan manfaat terukur, kaji kemungkinan penerapannya. Jika ada pendekatan kepemimpinan yang membuat pelayanan publik lebih baik, jadikan itu inspirasi.
Kita tidak perlu merasa rendah diri untuk belajar dari daerah lain. Sebaliknya, kita harus merasa tertantang untuk menghadirkan pemerintahan yang lebih baik bagi masyarakat sendiri.
Pemimpin yang hebat bukan pemimpin yang merasa paling benar, melainkan pemimpin yang bersedia belajar dari keberhasilan orang lain.
Pemimpin Daerah Harus Berani Belajar, Bukan Sekadar Berbangga
Sebagai bagian dari masyarakat yang menaruh perhatian terhadap perkembangan Lampung, saya berharap semangat pembelajaran antardaerah menjadi budaya dalam pemerintahan kita.
Banyak daerah yang memiliki potensi besar, sumber daya manusia, kekayaan alam, serta posisi strategis yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tantangannya adalah bagaimana seluruh potensi tersebut dikelola dengan kebijakan yang tepat, pelayanan yang berkualitas, dan keberpihakan yang jelas kepada rakyat.
Pemerintah daerah perlu terus mengukur keberhasilan berdasarkan manfaat yang dirasakan masyarakat. Apakah pelayanan kesehatan semakin mudah? Apakah akses pendidikan semakin baik? Apakah lapangan kerja bertambah? Apakah infrastruktur menjawab kebutuhan warga? Apakah masyarakat kecil mendapatkan ruang yang adil dalam pembangunan?
Pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih penting daripada sekadar membandingkan popularitas seorang kepala daerah.
Jika ada pemimpin dari provinsi lain yang berhasil menghadirkan terobosan, jangan buru-buru mencari kekurangannya hanya karena perbedaan pandangan politik. Lihat apa yang bisa dipelajari, periksa hasilnya, kemudian adaptasikan sesuai kebutuhan daerah.
Rakyat tidak membutuhkan perlombaan siapa yang paling hebat dalam berbicara. Rakyat membutuhkan bukti bahwa pemerintah hadir ketika mereka membutuhkan.
Apresiasi Bukan Pujian Buta
Saya ingin menegaskan bahwa apresiasi terhadap Sherly Tjoanda bukanlah dukungan tanpa batas ataupun pujian yang meniadakan kritik. Setiap pemimpin tetap harus terbuka terhadap pengawasan publik, transparansi anggaran, dan evaluasi kebijakan.
Pujian yang sehat adalah pujian yang memiliki dasar. Kritik yang sehat adalah kritik yang disampaikan dengan fakta dan niat memperbaiki. Keduanya diperlukan dalam demokrasi.
Pers, masyarakat sipil, dan organisasi independen memiliki peran penting untuk memastikan bahwa setiap kebijakan pemerintah dapat dinilai secara objektif. Tidak boleh ada pemimpin yang kebal kritik, tetapi juga tidak seharusnya keberhasilan yang nyata diabaikan hanya karena sentimen atau kepentingan tertentu.
Bagi saya, mencintai rakyat berarti berani berkata benar: mengkritik ketika ada yang salah dan mengapresiasi ketika ada yang baik.
Sikap inilah yang harus kita rawat agar demokrasi tidak terjebak dalam budaya saling menjatuhkan, melainkan menjadi ruang untuk berlomba menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
Rakyat Harus Menjadi Ukuran Tertinggi
Pada akhirnya, jabatan gubernur, bupati, maupun wali kota adalah amanah. Kekuasaan bukan tujuan akhir, melainkan sarana untuk menyelesaikan persoalan rakyat.
Saya percaya bahwa masa depan daerah akan lebih baik jika para pemimpinnya memiliki kerendahan hati untuk belajar, keberanian untuk berbenah, dan ketulusan untuk mengabdi.
Jika kinerja Sherly Tjoanda menghadirkan pelajaran yang baik bagi daerah lain, mari kita akui dan pelajari secara objektif. Jika ada kebijakan yang terbukti berhasil, mari kita kaji untuk diterapkan sesuai kebutuhan masyarakat kita.
Tidak perlu gengsi untuk meniru kebaikan. Tidak perlu takut mengakui keberhasilan orang lain. Dan tidak perlu menjadikan perbedaan politik sebagai alasan untuk menolak sesuatu yang bermanfaat bagi rakyat.
Sebab, tujuan utama pemerintahan bukan memenangkan pujian, bukan pula membuktikan siapa yang paling berkuasa.
Tujuan utama pemerintahan adalah membuat rakyat hidup lebih baik.
Ketika cinta kepada rakyat menjadi dasar kepemimpinan, apresiasi tidak lagi menjadi sekadar pujian, dan meniru keberhasilan daerah lain tidak lagi dianggap sebagai kelemahan. Semuanya menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk membangun Indonesia yang lebih adil, maju, dan sejahtera.
Rakyat tidak membutuhkan pemimpin yang hanya ingin terlihat hebat. Rakyat membutuhkan pemimpin yang sungguh-sungguh bekerja untuk mereka.

