
Mengutip data Trading Economics, harga CPO ditutup pada MYR4.766 per ton, naik 1,92 persen. Kenaikan tersebut membawa harga minyak sawit bertahan di atas MYR4.750 per ton dan mencapai level tertinggi dalam tiga pekan.
Penguatan harga CPO ditopang oleh meningkatnya harga minyak nabati di bursa Dalian, China, serta permintaan ekspor yang kuat. Para surveyor kargo melaporkan pengiriman minyak sawit Malaysia meningkat sekitar 43,2–58,3 persen secara bulanan pada paruh pertama Oktober.

Permintaan juga mendapat dukungan dari meningkatnya pembelian menjelang festival di India, yang merupakan salah satu importir minyak sawit terbesar dunia.
Dari dalam negeri, Indonesia menaikkan harga referensi CPO Oktober sebesar 3,44 persen menjadi USD1.042,15 per ton. Perkembangan tersebut turut menjadi perhatian pelaku pasar minyak sawit global.
Harga Batu Bara Mendekati Level Tertinggi Tiga Tahun
Harga batu bara juga mencatat kenaikan, meski relatif terbatas. Berdasarkan data yang dikutip dari Trading Economics, harga batu bara naik 0,20 persen menjadi USD150,70 per ton.
Kenaikan harga energi turut dipengaruhi tingginya harga gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG). Gangguan pasokan yang berkaitan dengan konflik di Timur Tengah mendorong pergeseran penggunaan energi ke pembangkit listrik berbahan bakar batu bara.
Kondisi tersebut menopang permintaan batu bara dan menjaga harga tetap berada pada level tinggi, mendekati posisi tertinggi dalam tiga tahun.
Nikel dan Timah Ikut Menguat
Di pasar logam, harga nikel juga bergerak positif. Mengutip data London Metal Exchange (LME), harga nikel berada di level USD15.529 per ton, naik 1,03 persen dibandingkan hari sebelumnya.
Sementara itu, harga timah tercatat sebesar USD50.839 per ton atau menguat 0,90 persen secara harian.
Kenaikan kedua logam tersebut menambah daftar komoditas yang bergerak di zona positif pada perdagangan Selasa.
Penguatan harga CPO, batu bara, nikel, dan timah menunjukkan dinamika pasar komoditas masih dipengaruhi kombinasi permintaan global, perkembangan sektor energi, serta kondisi perdagangan internasional.
Meski demikian, pergerakan harga selanjutnya tetap bergantung pada perkembangan pasokan, permintaan, nilai tukar, dan sentimen pasar dunia.

