Lompat ke konten
Beranda | Langkah Cepat Dalam Informasi Berita Indonesia dan Internasional Terkini | Rupiah Melemah ke Rp17.538 per Dolar AS, BI Siap Intervensi Pasar

Rupiah Melemah ke Rp17.538 per Dolar AS, BI Siap Intervensi Pasar

Rupiah Melemah ke Rp17.538 per Dolar AS, BI Siap Intervensi Pasar

JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu pagi (13/5/2026). Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.21 WIB, rupiah terkoreksi 9,5 poin atau 0,05 persen ke posisi Rp17.538 per dolar AS.

Pelemahan rupiah dipengaruhi sejumlah faktor global maupun domestik, mulai dari aksi jual investor asing hingga meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah yang memicu penguatan dolar AS.

Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto menjelaskan, tekanan terhadap rupiah salah satunya dipicu aksi jual saham oleh investor asing menjelang pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Selain itu, meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Selat Hormuz turut memicu kekhawatiran pasar global dan mendorong penguatan dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia, termasuk rupiah.

“Faktor lainnya juga terkait antisipasi investor asing terhadap libur panjang Kenaikan Yesus Kristus pada pekan ini,” ujar Myrdal.

Sementara itu, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti menyebut tekanan terhadap rupiah tidak lepas dari meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik geopolitik di Timur Tengah yang masih berlangsung.

Menurutnya, eskalasi konflik tersebut telah mendorong kenaikan harga minyak dunia dan meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap kondisi ekonomi global.

“Conflict di Middle East yang masih berlangsung dengan intensitas yang meningkat sehingga mendorong naiknya harga minyak dan ketidakpastian global,” kata Destry, Selasa (12/5/2026).

Untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, Bank Indonesia memastikan akan terus melakukan intervensi pasar melalui berbagai instrumen moneter, baik di pasar spot, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), maupun Non Deliverable Forward (NDF).

BI juga akan mengoptimalkan seluruh instrumen operasi moneter guna meredam tekanan terhadap rupiah di tengah gejolak pasar global.

“BI akan terus berkomitmen untuk selalu berada di pasar dengan melakukan smart intervention baik di pasar spot, DNDF maupun NDF dan juga mengoptimalkan penggunaan semua instrumen operasi moneter sehingga diharapkan dapat mengurangi tekanan pada rupiah,” ujar Destry.

Meski rupiah mengalami pelemahan, BI menilai kepercayaan investor asing terhadap pasar keuangan domestik masih cukup kuat.

Hal itu tercermin dari aliran modal asing yang masuk ke instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang mencapai Rp61,6 triliun selama April 2026.

Selain itu, likuiditas valuta asing di pasar domestik juga dinilai masih memadai. Pada akhir Maret 2026, dana pihak ketiga (DPK) valas tercatat tumbuh 10,9 persen secara year to-date (ytd).

Ke depan, Bank Indonesia memperkirakan tekanan musiman terhadap rupiah akan mulai mereda sehingga pergerakan nilai tukar dapat kembali mencerminkan fundamental ekonomi domestik yang dinilai tetap kuat.

Tinggalkan Balasan