
LAMPUNG TIMUR — Sedih dan kecewa yang dirasakan keluarga Sutarno, warga Kabupaten Lampung Timur, setelah satu unit Toyota All New Rush yang baru berjalan sekitar empat bulan ditarik oleh PT Astra Sedaya Finance (ACC) Cabang Bandar Jaya, Lampung Tengah.
Sutarno mengaku terkejut ketika persoalan kendaraan tersebut justru berujung pada permintaan pembayaran puluhan juta rupiah. Padahal, menurut penuturannya, kendaraan baru mengalami tunggakan sekitar satu bulan lebih dan sejak awal ia tidak pernah berniat menggadaikan ataupun mengalihkan kendaraan tersebut kepada pihak lain.
Sutarno yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani mengaku hanya berharap ada kebijaksanaan dari pihak perusahaan pembiayaan dalam menyelesaikan persoalan tersebut.
Mobil Dipinjam Anak Lelakinya, Berujung Digadaikan Tanpa Sepengetahuan Keluarga
Menurut cerita Sutarno, kendaraan Toyota All New Rush tersebut digunakan oleh salah satu anak lelakinya. Namun, anaknya tidak juga kembali. Sekitar satu bulan pihak keluarga mendapatkan kabar melalui istri sang anak, bahwa kendaraan itu telah digadaikan kepada seseorang berinisial PL melalui NK.

Dalam rekaman video yang didapat keluarga, PL terlihat membawa kendaraan tersebut ke sebuah gudang yang disebut milik ACC. Kendaraan itu dibawa setelah adanya permintaan dari salah satu pihak yang disebut terkait dengan ACC.
Keluarga kemudian mendapat informasi bahwa kendaraan tersebut telah ditarik karena adanya persoalan tunggakan pembayaran serta dugaan penggadaian unit.
Sutarno berkali-kali menegaskan, persoalan tersebut terjadi tanpa sepengetahuan dirinya.
Datang ke Kantor ACC, Muncul Tagihan Puluhan Juta
Setelah mendapat informasi mengenai penarikan kendaraan, pihak keluarga Sutarno kemudian diminta datang ke kantor ACC Cabang Bandar Jaya, Lampung Tengah, dan bertemu Kepala bagian, Arya untuk mencari jalan keluar. Selasa (18/8/26).
Namun, keluarga mengaku kaget ketika mendapatkan informasi mengenai nominal yang harus diselesaikan.
Menurut Sutarno, selain kewajiban tunggakan, muncul biaya yang disebut sebagai biaya operasional sekitar Rp50.250.000. Jika ditambah nominal lainnya, keluarga menyebut jumlah yang diminta untuk menyelesaikan persoalan kendaraan adalah dengan melunasi total pembiayaan. Nominal tersebut membuat keluarga Sutarno terpukul.

Pasalnya, kendaraan tersebut baru berjalan sekitar empat bulan dan tunggakan disebut baru berlangsung lebih dari satu bulan. Sutarno mengaku tidak pernah mengetahui bahwa kendaraan tersebut telah berpindah tangan melalui proses gadai.
“Saya Buruh Tani, Tolong Pertimbangkan Keadaan Kami”. ucapnya kepada media.
Dengan mata pencaharian sebagai buruh tani, Sutarno mengaku tidak mudah menyediakan uang puluhan juta rupiah dalam waktu singkat.
Ia merasa sedih karena sejak awal dirinya telah menunjukkan itikad baik dengan membeli kendaraan melalui pembiayaan dan membayar uang muka sekitar Rp102 juta.
Menurut Sutarno, tenor pembiayaan yang dipilih juga relatif pendek. Baginya, hal itu menjadi bukti bahwa sejak awal keluarga memang memiliki niat untuk memenuhi kewajiban pembayaran kendaraan.
“Kalau memang dari awal saya berniat melakukan seperti itu, tidak mungkin saya membayar uang muka sekitar Rp102 juta dan mengambil tenor yang pendek,” ungkap Sutarno kepada media.
Ia juga menjelaskan bahwa kendaraan tersebut memiliki nilai emosional bagi keluarganya. Karna kendaraan itu sebenarnya berkaitan dengan perjuangan salah satu anak perempuannya yang bekerja di luar negeri. Mobil tersebut digunakan untuk mengantar bolak-balik berobat ibunya yang sudah lama sakit.
Karena itu, ketika kendaraan justru ditarik akibat persoalan yang menurutnya berada di luar pengetahuan keluarga, Sutarno mengaku merasa sangat terpukul.
Berharap ACC Melihat Sisi Kemanusiaan
Sutarno mengatakan dirinya tidak menghindari kewajiban sebagai nasabah. Ia justru berharap persoalan tersebut dapat diselesaikan melalui komunikasi dan musyawarah dengan mempertimbangkan kondisi keluarga dan proses awal kontrak.
Ia meminta pihak ACC melihat kembali kronologi yang terjadi sebelum mengambil keputusan penyelesaian yang dikatakan berujung akan masuk dalam lelang.
“Saya hanya berharap pihak ACC punya hati nurani dan mau melihat keadaan kami. Saya sudah menjelaskan bagaimana kendaraan itu bisa sampai digadaikan tanpa sepengetahuan kami,” ujarnya.
Bagi Sutarno, persoalan ini bukan sekadar mengenai sebuah kendaraan. Di balik mobil tersebut terdapat kerja keras keluarga, uang muka yang telah dibayarkan, serta harapan seorang anak yang bekerja jauh dari keluarga untuk membantu kebutuhan ibunya.
Ia berharap perusahaan ACC dapat mempertimbangkan kembali nominal penyelesaian yang dibebankan kepadanya dan memberikan ruang negosiasi yang lebih manusiawi. (red)
