Lompat ke konten
Beranda | Langkah Cepat Dalam Informasi Berita Indonesia dan Internasional Terkini | Dedi Mulyadi Tegaskan Pengawasan Siswa di Luar Jam Sekolah Tanggung Jawab Orang Tua

Dedi Mulyadi Tegaskan Pengawasan Siswa di Luar Jam Sekolah Tanggung Jawab Orang Tua

Sejumlah siswa SMA 5 Bandung menggelar aksi tebar bunga di lokasi kejadian pengeroyokan yang menewaskan salah satu siswa SMA 5 Bandung, Minggu (15/3). Foto: kumparan

BANDUNG – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menegaskan bahwa pengawasan siswa di luar jam sekolah merupakan tanggung jawab penuh orang tua. Pernyataan tersebut disampaikan menyusul insiden tawuran pelajar yang menewaskan seorang siswa SMAN 5 Bandung di kawasan Jalan Cihampelas, Bandung, pada Sabtu (14/3/2026) dini hari.

Menurut Dedi, negara melalui sekolah dan pemerintah daerah hanya memiliki tanggung jawab terhadap siswa selama kegiatan belajar mengajar berlangsung di sekolah.

“Selama jam sekolah itu tanggung jawab negara. Di luar jam sekolah sudah menjadi tanggung jawab orang tua. Orang tua harus menjaga anak-anaknya, jam berapa dia berangkat dan jam berapa dia pulang,” ujar Dedi usai kegiatan pembagian kompensasi angkutan tradisional di Cirebon, Sabtu (14/3/2026).

Soroti Komitmen Orang Tua Siswa

Sejumlah siswa SMA 5 Bandung menggelar aksi tebar bunga di lokasi kejadian pengeroyokan yang menewaskan salah satu siswa SMA 5 Bandung, Minggu (15/3). Foto: Abisatya/kumparan

Berdasarkan laporan dari Dinas Pendidikan Jawa Barat, Dedi juga menyoroti adanya pelanggaran komitmen dari pihak keluarga siswa.

Ia menyebutkan bahwa sebelumnya orang tua siswa telah menandatangani surat pernyataan bermaterai yang berisi komitmen untuk mengawasi anak mereka, termasuk larangan menggunakan kendaraan bermotor.

“Saya sudah baca pesan dari Disdik. Orang tuanya sudah menandatangani pernyataan bahwa anaknya tidak akan menggunakan kendaraan bermotor,” ungkapnya.

Dedi menilai tidak adil jika seluruh persoalan kenakalan remaja dibebankan kepada sekolah atau pemerintah, terlebih jika kejadian tersebut terjadi di luar jam operasional sekolah.

Kronologi Tawuran Pelajar di Cihampelas

Sejumlah siswa SMA 5 Bandung menggelar aksi tebar bunga di lokasi kejadian pengeroyokan yang menewaskan salah satu siswa SMA 5 Bandung, Minggu (15/3). Foto: Abisatya/kumparan
Sejumlah siswa SMA 5 Bandung menggelar aksi tebar bunga di lokasi kejadian pengeroyokan yang menewaskan salah satu siswa SMA 5 Bandung, Minggu (15/3). Foto: kumparan

Insiden tragis tersebut menewaskan seorang siswa kelas XI SMAN 5 Bandung berinisial MFA yang diduga menjadi korban pengeroyokan dalam bentrokan antar pelajar di kawasan Jalan Cihampelas.

Seorang warga sekitar bernama Aceng mengaku menjadi saksi kejadian tersebut. Saat itu ia sedang mencuci mobil ketika mendengar suara benturan keras dari arah jalan.

“Awalnya kami lagi nyuci mobil. Tiba-tiba ada suara benturan keras sekali. Pas kami lihat, ada orang yang dipukul di sini,” ujar Aceng saat ditemui di lokasi kejadian, Minggu (15/3).

Menurutnya, sekelompok remaja datang dari dua arah berbeda, yakni dari arah Ciumbuleuit dan dari arah Jalan Cihampelas. Mereka kemudian terlihat melakukan pemukulan dan tendangan terhadap seorang pelajar.

“Orang dari sana datang, dari sini juga datang. Ada yang mukul, ada yang nendang,” katanya.

Para pelaku disebut datang menggunakan sejumlah sepeda motor dan setelah kejadian langsung melarikan diri ke berbagai arah.

Siswa SMAN 5 Bandung Gelar Doa dan Tabur Bunga

Sejumlah siswa SMA 5 Bandung menggelar aksi tebar bunga di lokasi kejadian pengeroyokan yang menewaskan salah satu siswa SMA 5 Bandung, Minggu (15/3). Foto: Abisatya/kumparan
Sejumlah siswa SMA 5 Bandung menggelar aksi tebar bunga di lokasi kejadian pengeroyokan yang menewaskan salah satu siswa SMA 5 Bandung, Minggu (15/3). Foto: kumparan

Sehari setelah kejadian, sejumlah siswa SMAN 5 Bandung mendatangi lokasi peristiwa untuk melakukan doa bersama dan tabur bunga sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada korban.

Para siswa datang secara berkelompok mengenakan pakaian serba hitam. Mereka berkumpul di titik lokasi kejadian, memanjatkan doa bersama, lalu menaburkan bunga di sekitar tempat korban ditemukan.

Salah seorang guru yang hadir mengatakan kegiatan tersebut merupakan inisiatif para siswa untuk mengenang rekan mereka yang telah meninggal dunia.

“Anak-anak bilang ingin mengadakan tebar bunga di lokasi kejadian sebagai bentuk penghormatan terakhir untuk korban,” ujarnya.

Suasana haru menyelimuti kegiatan tersebut. Sejumlah siswa terlihat menundukkan kepala, bahkan beberapa di antaranya tampak meneteskan air mata saat mengenang teman mereka.

Kehadiran para siswa juga menarik perhatian warga sekitar yang sebelumnya menjadi saksi kejadian tragis tersebut. Beberapa warga terlihat ikut berdiri di sekitar lokasi sambil menyaksikan prosesi doa dan tabur bunga. (*)

 

Tinggalkan Balasan