Serangan AS ke Venezuela Berpotensi Guncang Harga Minyak Dunia

Serangan militer Amerika Serikat (AS) ke Venezuela yang disertai klaim penangkapan Presiden Nicolás Maduro diperkirakan akan berdampak terhadap pergerakan harga minyak mentah global. Venezuela merupakan salah satu negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia, sehingga setiap gangguan geopolitik di negara tersebut berpotensi memicu volatilitas pasar energi.

Berdasarkan BP Statistical Review of World Energy, Venezuela tercatat memiliki sekitar 303 miliar barel cadangan minyak mentah, atau hampir seperlima dari total cadangan minyak dunia.

Sebelum terjadinya serangan AS, harga minyak mentah global justru ditutup melemah pada perdagangan Jumat (2/1). Harga minyak Brent turun 10 sen menjadi USD 60,75 per barel, sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 10 sen ke level USD 57,32 per barel.

Suasana setelah ledakan dan pesawat terbang rendah saat serangan udara yang diduga dari Amerika Serikat di Caracas, Venezuela, Sabtu (3/1/2026). Foto: Federico Parra/AFP
Suasana setelah ledakan dan pesawat terbang rendah saat serangan udara yang diduga dari Amerika Serikat di Caracas, Venezuela, Sabtu (3/1/2026). Foto: AFP

Meski demikian, sumber dari perusahaan energi milik negara Venezuela, Petróleos de Venezuela, S.A. (PDVSA), menyebutkan bahwa produksi dan aktivitas penyulingan minyak tetap beroperasi normal pada Sabtu (3/1) dan tidak mengalami kerusakan akibat serangan tersebut.

Pelabuhan La Guaira di dekat Caracas yang menjadi salah satu target serangan memang dilaporkan mengalami kerusakan cukup parah. Namun, pelabuhan tersebut tidak digunakan sebagai jalur ekspor minyak mentah, sehingga tidak berdampak langsung terhadap pengiriman energi Venezuela ke pasar global.

Tekanan AS Sebelum Serangan

Sebelum serangan militer terjadi, Presiden AS Donald Trump telah meningkatkan tekanan terhadap pemerintahan Maduro dengan menjatuhkan sanksi baru pada Rabu (31/12). Sanksi tersebut menyasar empat perusahaan serta kapal tanker minyak yang dituding terlibat dalam sektor energi Venezuela.

Langkah ini berdampak signifikan terhadap ekspor minyak Venezuela. Pada bulan lalu, ekspor minyak negara tersebut dilaporkan turun menjadi sekitar setengah dari 950.000 barel per hari (bpd) yang dikirimkan pada November.

Selain itu, kebijakan AS mendorong banyak pemilik kapal untuk mengalihkan jalur pelayaran mereka menjauhi perairan Venezuela. Kondisi ini menyebabkan lonjakan persediaan minyak mentah dan bahan bakar milik PDVSA.

Akibat keterbatasan pengiriman, PDVSA terpaksa memperlambat distribusi di sejumlah pelabuhan serta menyimpan minyak di atas kapal tanker. Langkah ini dilakukan untuk menghindari pemangkasan produksi minyak mentah maupun penurunan aktivitas pengilangan.

Masalah Internal PDVSA

Di sisi lain, sistem administrasi PDVSA dilaporkan belum sepenuhnya pulih dari serangan siber yang terjadi pada Desember lalu. Serangan tersebut memaksa perusahaan mengisolasi terminal, ladang minyak, dan kilang dari sistem pusat, sehingga operasional sempat dijalankan secara manual.

Kombinasi tekanan geopolitik, sanksi ekonomi, serta gangguan operasional ini dinilai akan terus menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga minyak mentah dunia dalam waktu dekat.

Tinggalkan Balasan