
Jakarta — Harga minyak mentah dunia melemah pada awal perdagangan Asia, Senin (6/1), di tengah pasokan global yang dinilai masih melimpah, meskipun pasar dibayangi kekhawatiran geopolitik menyusul dinamika politik di Venezuela.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent berjangka turun 34 sen menjadi USD 60,41 per barel pada pukul 23.08 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 41 sen ke level USD 56,91 per barel.
Tekanan harga terjadi meskipun Amerika Serikat (AS) dilaporkan menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro di Caracas pada akhir pekan lalu. Presiden AS Donald Trump bahkan menyatakan pemerintahannya akan mengambil alih kendali negara penghasil minyak tersebut.
Namun, dua sumber yang mengetahui langsung operasional perusahaan minyak negara Venezuela, Petróleos de Venezuela S.A. (PDVSA), menyebutkan bahwa operasi militer AS tidak berdampak pada produksi maupun pengolahan minyak Venezuela.
Di sisi lain, OPEC+ dalam pertemuan bulanan pada Minggu memutuskan untuk menahan tingkat produksi minyak. Para analis menilai kondisi pasar global saat ini masih mengalami kelebihan pasokan, sehingga gangguan ekspor Venezuela belum memberikan dampak signifikan terhadap harga minyak dalam jangka pendek.
Potensi Kenaikan Harga Tetap Terbuka
Sejak AS memberlakukan blokade terhadap kapal tanker yang dikenai sanksi dan memasuki atau meninggalkan perairan Venezuela, serta menyita dua kargo minyak bulan lalu, ekspor minyak Venezuela mengalami penurunan tajam dan dilaporkan lumpuh total sejak 1 Januari.
Kondisi tersebut menyebabkan jutaan barel minyak terjebak di kapal tanker bermuatan penuh di perairan Venezuela, sementara jutaan barel lainnya dialihkan ke fasilitas penyimpanan domestik.
Ekspor minyak Venezuela pada Desember tercatat turun menjadi sekitar 500.000 barel per hari, atau sekitar setengah dari volume ekspor pada November. Sebagian besar pengiriman Desember dilakukan sebelum embargo diberlakukan. Saat ini, hanya ekspor dari Chevron sekitar 100.000 barel per hari yang masih beroperasi, karena perusahaan tersebut mengantongi izin khusus dari AS meski sanksi diberlakukan.
Dampak lanjutan dari embargo mendorong PDVSA mulai memangkas produksi. Perusahaan bahkan meminta sejumlah perusahaan patungan untuk mengurangi output dengan menutup ladang minyak atau kelompok sumur tertentu.
Meski demikian, para analis menilai peristiwa geopolitik terbaru belum akan mengubah keseimbangan pasar minyak global secara signifikan, mengingat serangan AS tidak menyasar infrastruktur minyak utama Venezuela.
“Gangguan jangka pendek terhadap produksi Venezuela dapat dengan mudah diimbangi oleh peningkatan produksi di wilayah lain. Selain itu, pemulihan pasokan Venezuela dalam jangka menengah jauh lebih kecil dibandingkan pergeseran produksi di antara produsen utama,” kata Kepala Ekonom Grup Capital Economics, Neil Shearing.
Ketegangan geopolitik juga meningkat setelah Trump mengancam akan ikut campur dalam penindakan terhadap protes di Iran, produsen minyak utama OPEC lainnya. Kondisi ini membuka peluang kenaikan harga minyak ke depan.
“Harga minyak berpotensi mengalami kenaikan moderat akibat meningkatnya ketegangan geopolitik dan risiko gangguan pasokan dari Venezuela dan Iran. Namun, pasokan global yang melimpah masih menjadi faktor pembatas risiko tersebut untuk saat ini,” ujar Kepala Riset Komoditas Saxo Bank, Ole Hansen.
Pada pertemuan yang sama, OPEC+ juga menegaskan komitmen menjaga produksi tetap stabil pada kuartal pertama 2026, setelah sebelumnya menaikkan target produksi sekitar 2,9 juta barel per hari sepanjang April hingga Desember 2025, setara hampir 3 persen dari permintaan minyak dunia.