
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai berdampak pada sektor keuangan global. Sejumlah bank besar di China dilaporkan menghentikan pencairan pinjaman kepada entitas keuangan milik pemerintah Abu Dhabi serta menahan ekspansi pembiayaan ke kawasan tersebut.
Langkah ini diambil setelah konflik antara Iran dan Israel semakin memanas dan turut melibatkan Amerika Serikat. Ketegangan tersebut dinilai meningkatkan risiko kredit serta menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas investasi di kawasan Teluk.
Bank China Batasi Penarikan Fasilitas Pinjaman
Salah satu bank besar China dilaporkan membatasi penarikan dana dari fasilitas pinjaman bilateral yang sebelumnya telah disepakati dengan lembaga keuangan pemerintah Abu Dhabi.
Tidak hanya itu, beberapa bank menengah China juga mulai mencari pembeli untuk melepas sebagian porsi pinjaman sindikasi kepada debitur di Timur Tengah. Salah satu fasilitas pembiayaan yang tengah dilepas bernilai sekitar USD 4 miliar, yang sebelumnya melibatkan dana kekayaan negara ADQ.
Langkah ini menjadi sinyal bahwa sektor perbankan China mulai meningkatkan kehati-hatian terhadap risiko geopolitik yang berkembang di kawasan tersebut.
Investor China Kurangi Kepemilikan Obligasi Timur Tengah
Pengetatan kebijakan tidak hanya dilakukan oleh perbankan. Unit manajemen aset dari perusahaan asuransi China juga dikabarkan mulai mengurangi kepemilikan obligasi pemerintah serta obligasi yang berafiliasi dengan negara-negara Timur Tengah.
Beberapa instrumen yang terdampak termasuk surat utang yang diterbitkan oleh perusahaan energi raksasa Saudi Aramco.
Selain itu, sejumlah trader di institusi keuangan China dilaporkan telah diminta menghentikan sementara transaksi atas berbagai aset yang berasal dari kawasan Timur Tengah.
Regulator China dan Hong Kong Perketat Pengawasan
Dari sisi regulator, pengawasan terhadap eksposur keuangan ke Timur Tengah juga mulai diperketat.
Hong Kong Monetary Authority dilaporkan meminta sejumlah bank lokal untuk meninjau kembali eksposur mereka terhadap pinjaman maupun obligasi yang terkait dengan negara-negara Timur Tengah.
Sementara itu, regulator keuangan nasional China juga menginstruksikan bank-bank domestik untuk mengevaluasi aktivitas pembiayaan mereka di kawasan tersebut dan segera melaporkan hasilnya.
Langkah ini dilakukan sebagai upaya mitigasi risiko di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global.
Pinjaman Bank China ke Negara Teluk Sempat Melonjak
Sebelum konflik meningkat, pembiayaan bank-bank China ke negara-negara Teluk sebenarnya mengalami pertumbuhan signifikan.
Pada tahun 2025, total pinjaman ke kawasan tersebut tercatat melonjak hampir tiga kali lipat hingga mencapai rekor USD 15,7 miliar. Sebagian besar dana tersebut mengalir ke Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.
Namun kini, ketegangan geopolitik memaksa lembaga keuangan untuk mengevaluasi ulang strategi ekspansi lintas kawasan.
Investor Global Beralih ke Aset Safe Haven
Meski sebagian besar bank Asia masih memilih bersikap wait and see, beberapa di antaranya mulai mempertimbangkan penundaan transaksi baru dengan debitur dari kawasan Teluk.
Di sisi lain, perusahaan energi Abu Dhabi National Oil Company juga dilaporkan menunda rencana penerbitan obligasi berdenominasi yuan yang sebelumnya ditargetkan dapat menghimpun hingga 14 miliar yuan atau sekitar USD 2 miliar.
Ketegangan geopolitik ini juga meningkatkan volatilitas pasar keuangan Asia. Banyak investor kini beralih ke aset safe haven seperti dolar AS dan emas, sementara pasar saham serta aset berisiko lainnya mengalami tekanan.
Situasi tersebut menambah beban bagi perekonomian global yang sebelumnya sudah dibayangi oleh ketegangan tarif perdagangan serta perubahan besar di pasar tenaga kerja akibat perkembangan Artificial Intelligence (AI).
