Langkah Cepat Dalam Informasi Berita Indonesia dan Internasional Terkini
Lampung Selatan Raih Apresiasi Gubernur atas Penyelesaian Tindak Lanjut Pengawasan 100 Persen
KALIANDA — Komitmen Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Selatan dalam memperkuat tata kelola pemerintahan yang baik, transparan,…
Peringatan Isra Mikraj 1447 H di Masjid Nurul Huda Berlangsung Khidmat, Dwi Riyanto Sampaikan Taushiyah
LAMPUNG SELATAN – Peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah yang digelar di Masjid Nurul…
Berbasis Kepedulian Lingkungan, Desa Suak Raih Juara Favorit Desa Wisata Nusantara 2025
LAMSEL, Kalianda – Desa Suak, Kecamatan Sidomulyo, Kabupaten Lampung Selatan, menorehkan prestasi membanggakan di tingkat nasional…
PKS Gelar Laga Persahabatan Mini Soccer Bersama Awak Media Kota Metro
METRO | Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Dr. H. Almuzzammil Yusuf, M.Si., melaksanakan laga persahabatan mini…
DPD Golkar Kota Metro Gelar Rapat Pleno Perdana Kepengurusan Periode 2026–2031
Metro | Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar Kota Metro menggelar Rapat Pengurus Pleno perdana usai…
Pasar Karbon Mandek, Indonesia Kehilangan Peluang Ekonomi Hijau
BANDAR LAMPUNG – Pasar karbon seharusnya menjadi pintu masuk Indonesia menuju ekonomi hijau yang berkelanjutan. Dengan kekayaan hutan tropis, lahan gambut, dan mangrove yang menyimpan cadangan karbon dunia, Indonesia memiliki modal alam yang jarang dimiliki negara lain. Namun ketika pasar karbon justru mandek, peluang besar itu terancam lepas dari genggaman.
Kemandekan pasar karbon tidak terjadi tanpa sebab. Regulasi yang belum sepenuhnya matang, mekanisme perdagangan yang berbelit, serta lemahnya koordinasi antar lembaga membuat pelaku usaha dan investor bergerak hati-hati. Ketidakpastian ini menciptakan iklim pasar yang dingin, padahal perdagangan karbon menuntut kepastian hukum dan kejelasan skema jangka panjang.
Akibatnya, Indonesia tertinggal dalam perlombaan global ekonomi hijau. Negara lain mulai menjadikan kredit karbon sebagai instrumen strategis untuk menarik investasi, mendanai konservasi, dan menciptakan lapangan kerja hijau. Sementara itu, Indonesia masih berkutat pada penataan sistem, sehingga potensi ekonomi dari karbon belum mampu menjadi sumber pertumbuhan baru.
Dampak kemandekan ini paling terasa di tingkat daerah. Masyarakat lokal dan adat yang menjaga hutan belum mendapatkan insentif ekonomi yang layak. Tanpa manfaat nyata, upaya konservasi berisiko kalah oleh aktivitas ekonomi konvensional yang menjanjikan keuntungan cepat, meski merusak lingkungan. Dalam jangka panjang, ini justru memperbesar biaya ekologis dan sosial.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, Indonesia bukan hanya kehilangan peluang ekonomi, tetapi juga momentum kepemimpinan iklim. Pasar karbon seharusnya menjadi jembatan antara kepentingan lingkungan dan kesejahteraan rakyat. Untuk itu, percepatan kebijakan, penyederhanaan regulasi, serta penguatan pasar karbon domestik menjadi langkah mendesak.
Pasar karbon yang hidup akan menggerakkan ekonomi hijau, membuka lapangan kerja baru, dan memperkuat posisi Indonesia di panggung global. Namun selama pasar itu mandek, peluang emas hanya akan menjadi potensi yang tak pernah benar-benar terwujud.
Ketua DPRD Lampung Dukung Target Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen dan Penurunan Kemiskinan
Lampung – Ketua DPRD Provinsi Lampung, Ahmad Giri Akbar, menyatakan dukungannya terhadap ikhtiar Pemerintah Provinsi Lampung…
Di Bawah Pohon Merbau Tertua, Srawung Seni Sawah ke-5 Wayang Lampung Tegaskan Pesan Budaya dan Lingkungan
LAMPUNG SELATAN — Puncak acara Srawung Seni Sawah ke-5 Wayang Lampung digelar di bawah naungan pohon…
Lampung Selatan Kembali Jadi Lokasi Strategis Program Nasional, Kampung Nelayan Merah Putih Dibangun di Desa Kunjir
Rajabasa — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Selatan kembali dipercaya menjadi bagian dari program strategis nasional di…
Korem 043/Garuda Hitam Gelar RAT ke-50 Koperasi Konsumen Primer Kartika Garuda Hitam
Metro – Korem 043/Garuda Hitam (Gatam) menggelar Rapat Anggota Tahunan (RAT) ke-50 Koperasi Konsumen Primer Kartika…